Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak

This slideshow requires JavaScript.

Sejarah Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak dimulai pada tahun 1909, di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Bangunan pertama Gereja Katedral itu berukuran 11×20 meter. Ukuran ini disesuaikan dengan umat gereja saat itu yang masih sedikit, di samping juga dana yang terbatas untuk mendirikan bangunan yang lebih besar.

Bangunan pertama seluruh rangkanya adalah kayu belian dengan dinding semen. Bangunan itu menggunakan arsitektur eropa modern saat itu. Seperti halnya bangunan di Pontianak saat itu, gereja ini juga mempunyai kolong atau berstruktur panggung.

Keunikan bangunan ini adalah tulang-tulangnya yang tampak di luar. Ini tidak lazim, karena pada umumnya bangunan yang menggunakan rangka kayu, tulang-tulangnya justru disembunyikan di bagian dalam.

Seiring berjalannya waktu, jumlah umat Gereja Katedral semakin meningkat. Data tahun 1960, menunjukkan peningkatan umat yang signifikan yaitu menjadi 2.297 orang,  yang mendasari pihak gereja melakukan pemugaran agar bisa menampung umat lebih banyak.

Pemugaran dimulai tahun 1959 dan selesai pada 1963. Bangunan kedua yang mampu menampung 1.200 umat ini bertahan hingga 2011. Bangunan kedua sebenarnya juga berstruktur panggung. Namun seluruh  bagian bangunan kemudian ditutup semen, termasuk kolongnya. Bangunan ini didampingi menara dengan jam dan lonceng besar yang didatangkan dari Belanda.

Ada tiga lonceng di menara itu, yang terbesar beratnya 500 kilogram. Lonceng ini disinkronkan dengan jam, sehingga setiap pergantian jam lonceng tersebut selalu berbunyi.

Tapi sejak 10 tahun terakhir, jam tersebut tidak berfungsi dengan baik karena menara mengalami kemiringan. Kondisi jam dan loncengnya sebenarnya sangat bagus, tetapi karena menaranya miring, jam itu tidak bisa berfungsi dengan baik. Di bagian dalam gereja terdapat pembatas besi yang memisahkan antara imam dengan umat. Bentuk besi pembatas ini terdapat simbol hubungan umat dengan Allah. Kekhasan lain dari bangunan kedua ini adalah semua lantainya yang terbuat dari kayu belian.

Jam, lonceng, besi pembatas, dan lantai kayu tersebut rencananya tetap dipertahankan di bangunan baru yang merupakan bentuk ketiga Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak.

Dari segi daya tahan, bangunan baru ini dibuat lebih tahan dibanding dua bangunan sebelumnya. Harapan kedepan gereja ini bisa digunakan hingga empat atau lima generasi berikutnya serta Gereja Katedral Santo Yoseph menjadi satu di antara penghias Kota Pontianak.


Sumber artikel : http://www.katedralpontianak.or.id/

Sumber foto : http://pontianak.tribunnews.com/http://www.skyscrapercity.com/http://www.katedralpontianak.or.id/

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s